Tanda Orang Avoidant Attachment
Tanda Orang Avoidant Attachment (Ilustrasi AI)

7 Tanda Orang Avoidant Attachment: Ciri-Ciri yang Sering Diabaikan (Berdasarkan Riset Psikologi)

Diposting pada

Kalau diajak serius, kabur. Dikasih perhatian, malah menjauh. Dibilang ‘cuek’, tapi sebenarnya dalam hati deg-degan takut ditinggalkan. Hmm… familiar nggak, nih?Avoidant attachment adalah salah satu gaya keterikatan dalam hubungan yang bikin seseorang “mingkem” saat butuh kedekatan emosional. Mereka bukan nggak peduli, takut aja buka diri karena trauma atau pengalaman masa lalu. Nah, berdasarkan penelitian psikologi, orang dengan tipe ini punya pola unik yang sering disalahpahami. Daripada nebak-nebak, yuk kupas tuntas 7 Tanda Orang Avoidant Attachment, plus tips menghadapinya biar hubungan nggak jadi “hide and seek” terus! ✨”*

Apa Itu Avoidant Attachment? Yuk, Kenalan Sama Si “Jaga Jarak” Ini!

Pernah nggak sih ketemu orang yang keliatannya super mandiri, tapi sebenernya sulit banget buat dekat secara emosional? Nah, bisa jadi dia punya avoidant attachment, gaya keterikatan yang bikin seseorang cenderung menghindari kedekatan emosional. Ini bukan sekadar sifat “cuek” biasa, tapi pola yang terbentuk dari pengalaman masa kecil, lho!

Teori ini awalnya digagas oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth, yang ngeliat kalo hubungan kita sama pengasuh di kecil bener-bener ngebentuk cara kita menjalin relasi di masa dewasa. Kalo dulu pengasuhnya kurang responsif sama kebutuhan emosional kita, bisa jadi kita tumbuh jadi orang yang ngerasa “lebih aman” jaga jarak.

Menurut riset di Journal of Social and Personal Relationships, sekitar 20% orang dewasa punya kecenderungan avoidant attachment. Jadi, kalo kamu atau orang terdekatmu kayak gini, nggak perlu merasa sendiri, banyak kok yang ngalamin hal serupa!

7 Tanda Orang Avoidant Attachment yang Perlu Kamu Tahu

1. Emosi? Disimpan Aja Deh!

Orang dengan avoidant attachment itu jago banget nahan perasaan. Mereka lebih milih expressive suppression, alias nutup-nutupin emosi, daripada nunjukin apa yang sebenernya mereka rasain. Ini bukan karena mereka nggak punya perasaan, tapi lebih karena takut dianggap lemah atau ditolak. Penelitian dari Universitas Airlangga nyatetin kalo kebiasaan ini bisa bikin mereka kelihatan “dingin”, padahal sebenernya dalam hati mungkin lagi berantakan.

2. “Jangan Terlalu Dekat, Ya!”

Dalam hubungan, baik pacaran atau pertemanan. mereka suka menjaga jarak. Pas ada konflik, mereka lebih milih mundur (withdrawal) daripada ngobrolin masalah. Efeknya? Hubungan jadi kurang memuaskan, karena pasangan atau temennya bisa ngerasa diabaikan. Data dari Journal of Social and Personal Relationships nunjukin kalo kebiasaan ini bikin hubungan rentan putus atau nggak harmonis.

3. Mandiri Tapi Sebenarnya… Takut Bergantung

Mereka bangga banget bisa ngapa-ngapain sendiri. Tapi sebenernya, bukan karena nggak butuh orang lain, tapi karena mereka udah terlatih buat nggak ngandalin siapapun. Ini mekanisme pertahanan diri, karena dulu waktu kecil, mereka ngerasa bergantung itu berisiko. Jadi, daripada minta tolong, mending selesaikan semuanya sendiri.

4. Nggak Nyaman Bicara Masalah Pribadi

“Gue sih oke aja.”
“Ngobrolin perasaan? Nggak perlu deh.”

Kalimat-kalimat kayak gini sering banget keluar dari mulut orang avoidant. Mereka punya trust issues dan takut kalo terbuka malah bakal disakiti. Jadi, daripada curhat, mending dipendem sendiri.

5. Kabur Kalau Ada Konflik

Konfrontasi? No, thanks! Mereka bakal nghindarin pertengkaran sebisa mungkin, entah dengan diam, minggat, atau pura-pura nggak peduli. Sayangnya, strategi ini malah bikin masalah nggak pernah kelar dan bikin pasangan frustrasi.

6. “Terlalu Dekat Bikin Nggak Nyaman”

Buat mereka, kedekatan emosional itu serasa ancaman. Penelitian di Neuropsychologia nemuin kalo otak orang avoidant (khususnya amygdala – bagian yang ngatur respons ketakutan) aktif banget pas mereka dihadapin sama situasi intim. Jadi, secara biologis, mereka emang “terprogram” buat ngerasa waspada kalau terlalu dekat sama orang.

7. Menyimpan Dendam Diam-Diam

Mereka jarang marah langsung, tapi perasaan negatifnya numpuk. Bisa jadi mereka nyalahin diri sendiri atau orang lain dalam hati, yang lama-lama bisa picu kecemasan atau depresi ringan tanpa disadari.

Penyebab Avoidant Attachment: Kenapa Bisa Terbentuk?

1. Pola Asuh yang Dingin atau Otoriter

Menurut Bowlby (1988), anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang responsif secara emosional, misalnya orang tua yang nggak pernah ngehargain perasaan anak, bakal belajar buat nahan emosi dan nggak ngarepin dukungan dari orang lain.

2. Pernah Ditolak atau Dikhianati

Bayangin: waktu kecil, setiap nangis atau minta perhatian, malah diabaikan atau dimarahin. Lama-lama, anak bakal ngerasain kalo nunjukin emosi itu berujung sakit hati. Akhirnya, mereka memilih buat ngunci perasaan dan nggak mau dekat-dekat sama orang.

3. Faktor Biologis: Otak yang “Overprotective”

Penelitian Cassidy (2016) nyatetin kalo orang avoidant punya aktivasi amygdala yang tinggi saat menghadapi ancaman sosial (kayak kedekatan emosional). Jadi, sebenernya otak mereka menganggap keintiman sebagai bahaya, mirip kayak respons fight-or-flight!

Gimana Cara Menghadapi Orang Avoidant?

1. Jangan Dipaksa Terbuka

Kalo kamu punya pasangan/teman yang avoidant, hindari memaksa mereka buat curhat. Mulailah dari topik ringan dulu, biar mereka ngerasa aman.

2. Terapi CBT Bisa Membantu

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) efektif buat bantu mereka ngidentifikasi pola pikir negatif dan belajar cara berkomunikasi yang lebih sehat.

3. Jadi “Safe Space” Buat Mereka

Menurut teori Ainsworth, orang avoidant butuh “secure base”, sosok yang konsisten, bisa diandalkan, dan nggak bakal ninggalin mereka. Jadi, tunjukkan kalo kamu bisa dipercaya tanpa menuntut mereka buka diri terlalu cepat.

4. Latihan Komunikasi Emosional

Ajakin mereka ngomong pake kalimat “Aku ngerasa…” ketimbang “Kamu selalu…”. Misalnya:
❌ “Kamu selalu nggak peduli!”
✅ “Aku kadang kesel karena ngerasa diabaikan.”

5. Jangan Ambil Hati Kalau Mereka Menjauh

Ini bukan tentang kamu, tapi tentang ketakutan mereka sendiri. Kasih waktu dan ruang, tapi tetep tunjukkan kalo kamu ada buat mereka.

Avoidant Attachment Bisa Berubah, Kok!

Yang penting diingat: gaya keterikatan bukan takdir. Dengan kesadaran dan usaha, orang avoidant bisa belajar buat lebih terbuka dan membangun hubungan yang sehat. Buat kamu yang punya kecenderungan ini, nggak perlu buru-buru nyalahin diri sendiri, pelan-pelan, belajar percaya sama orang lain itu mungkin, kok!

Nah, buat kamu yang punya temen/pasangan avoidant, semoga artikel ini bantu kamu ngerti mereka lebih dalam. Jangan lupa share ke orang-orang terdekat biar makin banyak yang paham soal gaya keterikatan ini!

Stay mindful, stay connected! 💙

Yuk, jangan berhenti di sini! Masih banyak insight psikologi seru yang bisa kamu gali.
Follow terus di Daripada GABUT, Mending PINTAR, biar nggak ketinggalan info penting soal mental dan hubungan! 💬🧠